Kamis, 2009 Juni 04

Ketika Tombol untuk Mengganti Saluran di Remote Televisi Tidak Lagi Berfungsi, Saya Tak Punya Pilihan Lain Kecuali Mematikannya

   dari jakartabeat.net, dan Kang Pidi ini kalau membuat komik lucu-lucu sekali.

Pemilu Presiden memang masih lama. Tapi sepertinya saya sudah tahu akan memilih siapa. Memilih apa, lebih tepatnya. Tahun ini pemilu pertama saya, namun saya memutuskan untuk tidak memilih saja. Ya, saya dengan mudah bisa dituduh apatis, apolitis, tidak peduli dengan masa depan bangsa, la la la. Mungkin beberapa orang akan memperhatikan jari kelingking saya yang, untuk kedua kalinya tahun ini, tidak ’belang’ bekas celupan tinta. Saya memang belum sadar hidup saat Orde Baru meraja, jaya, lalu jatuh (dan lantas tertimpa tangga pula). Saya bahkan membaca koran hanya edisi hari Sabtu dan Minggu saja. Saya tidak tahu siapa berkoalisi dengan siapa, siapa bertengkar dengan siapa, siapa tampil dimana dan salah bicara apa, pokoknya itulah, jenis-jenis berita yang menyedot pemirsa. Hanya saja suatu kali saya menghadiri proses rekaman salah satu acara yang jenisnya banyak tayang pada masa-masa pemilu, acara dimana orang-orang penting adu bicara. Saat rekaman mulai, saya lihat mereka bersitegang dan saling menjatuhkan, yang satu dengan yang lainnya. Saat rekaman usai, mereka bersalam-salaman, tertawa dan mengobrol akrab seperti kawan lama. Itu baru alasan pertama. Saya punya detail-detail untuk alasan lainnya.

Lagipula, saya tidak mau memilih mereka yang akan menyuruh saya minggir di jalan raya atau membuat saya mencak-mencak menonton berita. Saya bahkan jadi khawatir bicara, takut dijerat pasal seperti Ibu Prita. Tapi akhir kata, selamat memilih untuk masa depan bangsa. Saya mau bernyanyi "Mosi Tidak Percaya saja", sekeras-kerasnya.

-M O O N Y

"janjimu pelan-pelan akan membunuhmu.."

Sabtu, 2009 Mei 23

Pemikiran Acak

Jangan bingung! Judul di atas adalah terjemahan bebas dari random thought, jadi bukan semacam teori ilmiah baru, meski saya memang banyak dipengaruhi oleh Taleb dan Black Swan-nya akhir-akhir ini. Hahaha..

Dan begitulah yang (selalu) terjadi ketika UAS menyerang. Mungkin ekses dari begitu banyak teori dan konsep yang dijejalkan secara paksa adalah pemikiran acak sebagai sebuah pelarian. Entahlah, sejak kemarin saya ingin mengomentari sinetron lokal yang menurut saya lebih seram dibanding Alone dan Shutter, tapi kok tiba-tiba ada kutipan yang lebih menarik dan perlu dibagi disini:

"Saat bulan purnama atau bulan baru, banyak orang bunuh diri, kecelakaan, dan para pasien rumah sakit jiwa menampakkan kelakuan yang lebih aneh dari biasanya. Orang-orang zaman dulu sering bilang bahwa kelahiran terjadi saat laut pasang, dan kematian terjadi saat laut surut. Data-data tersebut sudah dikumpulkan. Jadi terbukti bahwa bulan memang mempengaruhi hidup, mati, serta aktivitas manusia.

Tubuh manusia 80% terbentuk dari cairan. Kalau disamakan dengan air laut yang pasang dan surut karena dipengaruhi bulan secara terus menerus, maka tidak begitu aneh jika tubuh manusia pun terpengaruh."

Kutipan ini saya peroleh dari komik-yep!, Dewi Matahari oleh Suzue Miuchi. Komik ini terbit sejak tahun 1987, dan sampai sekarang hanya ada empat jilid (satu jilid adalah edisi spesial). Masih bersambung, sama nasibnya seperti komik Topeng Kaca. Dikomik ini juga terdapat banyak kutipan menarik lainnya. Misalnya, setiap kata yang menyebutkan organ tubuh bagian dalam (seperti ginjal, hati, dsb) pada aksara Kanji diawali dengan aksara yang artinya "bulan". Sayang saya lupa di jilid berapa.

Jadi apa yang selama ini saya alami memang beralasan secara ilmiah, bukan? :)

-M O O N Y

"Ini keajaiban alam. Aku mempercayainya."-Theme Song kartun Sailormoon.

Tapi, hus, hus! Ayo kembali ke SBKRI, SOBSI, dan Simulacra yang masih menunggu! T_T

Rabu, 2009 Februari 18

Unfinished Thoughts #2: Di Antara Sosiobiologi Ada Kontemplasi


Lama-lama saya jadi curiga kalau segala macam ide mengenai kebangsaan dan nasionalisme hanya politik bahasa semata.

Hal ini diakui langsung oleh pengajar saya tadi pagi. Katanya, "Tolong anda bedakan penggunaan kata bangsa secara akademis dan secara politis." Maksudnya adalah, bedakan pengertian "bangsa" secara konseptual dengan "bangsa" yang muncul di berbagai pidato capres, caleg, cagub, dan calon-calon lainnya.
Hati-hati, mereka bisa saja bilang "..Bangsa Indonesia! Bangsa Indonesia!" dengan maksud dan tujuan pribadi.

Politik bahasa juga mewujud pada 'kemasan' produk sejarah. Sumpah Palapa, momen sakral mengenai adanya kesadaran persatuan Nusantara pada era Majapahit itu, nyatanya hanya modifikasi dari proyek invasi dan semangat penaklukan. Budi Oetomo diobrak-abrik. Dari yang tadinya hanya pergerakan priyayi Jawa untuk "meninggalkan teman-teman lainnya di belakang" disulap jadi momentum kebangkitan nasional. Dibungkus dengan slogan-slogan "persatuan" dan "kesatuan".. jadi deh, Nasionalisme.

Kata orang, lebih baik hidup dalam ketidaktahuan daripada mengetahui kebenaran yang pedih. Pedih juga rasanya, Nasionalisme ternyata bisa 'instan' alih-alih sakral. Ia juga tak lebih dari politik bahasa yang menggunakan pembenaran "semuanya bisa jadi kontekstual.." Aih...


-M O O N Y
yang harusnya buat paper tentang sosiobiologi. emang pikiran suka 'ajaib' nyasarnya kemana..

Jumat, 2009 Februari 06

Dalam Perjalanan (Ingatan)

Saya teringat suatu hari di SMP. Seorang teman yang berujung menjadi sahabat baik saya sampai sekarang, Ajeng, menenteng novel yang tidak terlalu tebal dengan kertas yang sedikit menguning. "Gadis Pantai", katanya, "punya uwa gue..". Kami berdua gemar membaca. Bahkan, begitulah persahabatan kami bermula. Di hari pertama kelas tiga SMP itu, pada jam istirahat, hanya kami berdua yang tersisa di kelas. Duduk berjauhan dan tidak saling mengenal. Tapi kami berdua melakukan hal yang sama: Membaca.

Itulah perkenalan pertama saya dengan Pramoedya Ananta Toer. Diawali Gadis Pantai, lalu Arok Dedes. Bumi Manusia yang lekat di ingatan saya adalah versi terjemahannya, This Earth of Mankind, yang saya pinjam dari Library@Senayan. Saya ingat protes teman saya, "Baca buku tentang nasionalisme kok yang bahasa Inggris?!". Hahaha..

Begitulah kecintaan terhadap karya-karya Pram bermula. Ujian akhir Bahasa Indonesia, saya dan teman sebangku (sekaligus sahabat saya, Esti) mereview keseluruhan Tetralogi. Kami akhirnya terpaksa harus kebut baca jilid keempat yang saat itu selalu kami tunda untuk dibaca karena tak ingin tahu ending cerita. Kami lalu menangisi Minke bersama-sama. Mengutuki Pangemanann tak habis-habisnya.

Kami menangisi Pram yang tak kesampaian memenangkan Nobel sastra, Pram yang 'terlanjur' wafat padahal belum sempat kami mintai tanda tangannya di buku-buku kami, Pram yang sebagian teman kami tanggapi namanya dengan kernyitan di dahi.

Kami sadar, membaca Pram tidak bisa hanya sekali. Kami pun sadar, selalu ada semangat dan inspirasi baru yang muncul setiap kali membaca karya-karyanya. Saya sendiri pertama-tama terpesona struktur bahasa dan permainan kata-katanya, baru saya 'kepincut' Minke dan kekerasan hatinya. Kami tak habis pikir bagaimana mungkin novel sebagus ini bisa dilarang dibaca.

Hari ini, Mbak Ery Seda berkata bahwa "segala yang berada di bawah kolong langit" dapat dianalisa secara sosiologis. Pikiran saya melayang kepada kata-kata Nyai Ontosoroh,
"Segala yang berada di bawah kolong langit merupakan urusan orang yang berpikir". Hari ini, 6 Februari 2009, saya menyanyikan Darah Juang untuk Pram dan berdoa semoga segala yang berada di bawah kolong langit itu dapat menjadi inspirasi bagi saya. .

-M O O N Y

Senin, 2009 Februari 02

Welcoming Sanity! :)

Akhirnya Januari (alias liburan) selesai dan sudah bulan Februari (alias rutinitas) lagi. Ini berarti berblablabla ria dimulai lagi! :)

Januari berakhir dengan sangat membahagiakan karena saya bertemu Ayu Utami lagi dan kali ini: BISA NGOBROL BARENG SATU JAM!!!
Hahahaha, terimakasih kepada orang-orang yang tidak muncul untuk klinik penulisan, saya mendapat kesempatan yang bahkan ga pernah saya khayalkan (yes, i do daydreaming a lot) ini.
And she's very nice and all, dan kami sempat berbincang tentang proyek dua belas tahun mendatang Mbak Ayu (yang merupakan semacam turunan dari Bilangan Fu). Kali ini, saya akhirnya juga tahu bahwa Mbak Ayu merupakan fans Romo Mangun, Ahmad Tohari, dan Pram! Ini sudah pasti hari terbaik saya di tahun 2009 (yang tentu saja dikritik oleh Kak Yana karena katanya peristiwa ini bahkan baru terjadi di bulan Januari), hehehe..

Bagi saya, ucapan "Selamat berlibur!" memang menyenangkan, tapi rasanya kok tidak menambah semangat? Bagaimana dengan "Selamat kembali ke rutinitas?" :)

-M O O N Y
(akhir2 ini saya sering membaca ulang tulisan2nya GM dan nemu beberapa yang bagus sekali (walaupun tulisan beliau memang bagus dan siapapun pasti setuju hal tersebut, dan saya baru sadar saya buat tanda kurung di dalam tanda kurung!) dan layak untuk dibaca dan dibaca ulang.)
Here are the links. Enjoy!
Pleonoxia--bagaimana "milik" dan "melik" mendorong patologi sosial
Pelacur--review film "Pertaruhan"nya Kalyana Shira yang diputar di Jiffest kemarin
Badri--
the newest Caping

Selasa, 2009 Januari 06

Dan Setiap Bumi adalah Karbala

"Tak ada lagi yang dirindukan pelangi kepada mentari
hingga jiwa-jiwa kami kembali ke pelukan abadi."

In memories of the martyrdom of Palestinians and
Imam Hussein AS in Karbala.

Minggu, 2008 Desember 14

2.53 AM: Instead of Studying, I am Mumbling About Fiddledeedeeness and Cursing Everything

Kasihan sekali jadi mahasiswa. Selain menghabiskan sebagian besar waktunya merasa terdoktrinasi oleh berbagai paradigma, perspektif, teori, bla bla bla, masih juga harus ditambah dengan penderitaan bahwa ia harus menganalisa kasus dengan memaksakan teori barat ke dalam karya ilmiah yang dibuatnya.

Hahaha.. ini adalah justifikasi serampangan dari seorang mahasiswi yang, alih-alih belajar dari bahan fotokopian yang diberikan dosen, memilih untuk menjadi seorang Googlist dan Wikipedian (sok-sok bikin aliran sendiri), dan menemukan fakta bahwa belajar lewat blog orang-orang Indonesia jauh lebih bikin dia mudeng daripada membaca hasil penelitian si ini, si itu, di Amerika, Jepang, Samoa, dll dkk dst dsb.--> "gaya ah, bilang aja emang ga bisa bahasa Inggris!" *suara K Ali terdengar dari jauh*

Hubungan antar pasangan atau antar orangtua-anak, misalnya, bisa dipengaruhi faktor-faktor eksternal seperti kebudayaan yang berlaku atau status sosial ekonomi di masyarakat. Pada poin ini masih sangat masuk akal. Masuk ke poin berikunya, ketika peneliti mulai melakukan dikotomi antara kelas atas-kelas pekerja, kulit putih-kulit hitam, orang barat-orang timur, saya sangat-sangat merasa terganggu. Terasa sekali bahwa pembagian ini dilakukan secara vertikal dan tidak adil. Kenapa perbedaan antara kaum hispanik dan kulit putih dalam hubungannya dengan lansia menjadi faktor etnis, misalnya? Bisa saja hal tersebut didorong oleh fakta bahwa kebanyakan kaum hispanik di Amerika Serikat adalah buruh imigran dan karenanya lebih berkaitan dengan faktor status ekonomi ketimbang etnis. Tapi kenapa jadi etnis? No further explanation, thank you. Terima kasih sekali sudah membuat saya, selain harus berjuang menjejalkan berbagai teori ke dalam kepala, bahkan tidak mendapat penjelasan yang memuaskan mengenai apa yang sebenarnya saya coba masukkan ke kepala tadi.

Lalu dikatakan juga bahwa segala hal yang serba vertikal itu ada karena fungsional. Sebelumnya maafkan, siapalah saya mengkritik tuan-tuan besar ilmu pengetahuan, tapi bukankah fungsi terbentuk untuk merujuk manfaat dari suatu hal yang telah eksis? Kenapa kerap kali terasa seperti pembenaran ya?

Daaaaan...demikianlah sebagian besar bahan kuliah saya di semester ini. Kasihan sekali jadi mahasiswa. Atau saya harusnya pindah ke jurusan antropologi saja kalau pengen belajar sesuatu yang lebih horizontal ya? He he.


-M O O N Y
maaf, sudah tengah malam buta. pas ngebaca ulang juga sebenernya bingung nulis apaan sih saya? ini cuma dorongan bulan purnama, kayaknya. atau mungkin juga karena besok pagi ada ujian dan saya cuma bisa marah-marah karena ga ngerti bahannya.